Monday, 14 April 2014

IDENTIFIKASI PENYAKIT JENIS JAMUR PADA KERAPU SUNU




1.1. Latar Belakang
Indonesia sebagai negara maritim mempunyai potensi hasil perikanan laut yang besar. Perhatian pemerintah dalam sektor perikanan semakin besar dengan di bentuknya Departemen Kelautan Perikanan. Hal ini dilakukan dalam rangka pemanfaatan dan pemeliharaan potensi peikanan laut semaksimal mungkin sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi masyarakat indonesia dan dapat mempertinggi pemasukan devisa negara. salah satu strategi pemanfaatan dan pelestarian potensi sumberdaya laut adalah pembenihan dan budidaya ikan kerapu.
Permintaan pasar akan komuditas ini stabil bahkan cenderung meningkat dari tahun ketahun.  Dengan demikian pengembangan usaha budidaya ikan kerapu mempunyai prospek yang sangat baik. Namun demikian hal yang menjadi kendala utama adalah ketersediaan benih ikan kerapu yang masih belum terpenuhi baik dalam jumlah maupun kualitas benih serta ketersediaan secara kontinyu selain itu kendala utama dalam pembenihan ikan adalah tingginya tingkat kematian pada stadia awal yaitu stadia larfa sampai stadia juvenile.Kerapu sunu (Plectropomus leopardus) merupakan ikan konsumsi laut yang mempunyai prospek pengembangan yang cukup cerah karena teknologi pembenihan massalnya telah dikuasai. Permintaan pasarnya dalam keadaan hidup sangat tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri.
Ikan kerapu sunu (Plectropomus leopardus) yang dikenal dengan kerapu bintang termasuk satu diantara komoditas ekspor unggulan Indonesia dari budidaya laut. (sudirman dan karim. 2008),  Dalam  budidaya  ikan penyakit  ikan  dapat  mengakibatkan  kerugian  ekonomis. Karena  penyakit  dapat  menyebabkan  kekerdilan, periode  pemeliharaan  lebih  lama ,  tingginya  konversi  pakan,  tingkat  padat  tebar  yang  rendah  dan  kematian. Sehingga dapat  mengakibatkan  menurunnya  atau  hilangnya  produksi. Tinggi rendahnya kematian akibat infeksi suatu penyakit juga tergantung pada kondisi ikan.  Penyakit yang terjadi pada kondisi ikan sehat tidak akan mengakibatkan kematian yang tinggi dan sebaliknya apabila kondisi ikan kurang baik maka penyakit akan mengakibatkan kematian yang tinggi.
Penyakit ikan menurut penyebabnya di bedakan menjadi penyakit infeksi dan non infeksi.  Penyakit infeksi yaitu penyakit yang di ditimbulkan akibat adanya gangguan organisme patogen, penyebabnya adalah virus, bakteri, parasit dan jamur.  Penyakit non infeksi yaitu penyakit yang timbul akibat adanya gangguan factor yang bukan pathogen dan tidak menular, penyebabnya adalah keracunan makanan, kekurangan makanan, kelebihan makanan dan mutu air yang buruk (Gusrina, 2008).
Beberapa jamur dapat menginfeksi ikan, namun demikian ikan pada dasarnya akan dapat terinfeksi jamur apabila dapat penanganan yang kurang sempurna (penanganan yang kasar ) atau karena penyebab lain, misalny : akibat air yang mengandung bahan kimia atau pestisida yang dapat menyebabkan terkikisnya lendir dari permukaan kulit (iritasi) dan akhirnya timbul luka, disamping itu yang juga berpengaruh adalah situasi suhu dan perubahan air yang mendadak. Untuk  itu dilakukan praktek kerja lapangan untuk mengidentifikasi jenis jamur yang menyerang ikan kerapu sunu.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Praktek kerja lapangan ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyakit jenis jamur yang terdapat pada ikan kerapu sunu (Plectropomus leopardus) yang di Laboratorium Uji  Stasiun  Karantina Ikan Kelas II Luwuk Banggai. Sedangkan kegunaan dari PKL ini adalah sebagai sumber informasi kepada pembudidaya ikan Kerapu sunu kabupaten Banggai mengenai jenis-jenis jamur yang menyerang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
           
2.1.  Klasifikasi dan Morfologi Ikan Kerapu Sunu (Plectropomus leopardus)
                Kerapu sunu (Plectropomus leopardus ) merupakan komoditas ekspor yang harganya cukup tinggi. Klasifikasi Kerapu Sunu (Plectropomus leopardus) menurut Lacepede, 1802 dalam http://richocean.wordpress.com sebagai berikut :
Kerajaan    :
Animalia
Filum         :
Chordata
Kelas         :
Actinopterygii
Ordo          :
Perciformes
Famili        :
Serranidae
Genus        :
Plectropomus
Spesies      :
P. leopardus





     


Gambar 1. Ikan kerapu sunu (plectropomus leopardus )sumber   











Pada umumnya ikan kerapu memiliki bentuk tubuh agak rendah, moncong panjang memipih dan menajam, maxillarry lebar diluar mata, gigi pada bagian sisi dentary 3 atau 4 baris,terdapat bintik putih coklat pada kepala, badan dan sirip, bintik hitam pada bagian dorsal danpoterior. Badan ikan memanjang tegap. Ikan kerapu sunu memiliki memiliki bentuk tubuh agak gepeng dan memanjang, Ciri yang membedakan antara ikan kerapu sunu dengan ikan kerapu lainnya adalahkepala, badan, dan bagian tengah dari sirip berwarna abu-abu kehijau-hijauan, cokelat, merah,atau jingga kemerahan dengan bintik-bintik biru yang berwarna gelap pada pinggirnya. Bintik-bintik pada kepala dan bagian depan badan sebesar diameter bola matanya atau lebih besar. Pada jenis kerapu sunu lodi kasar umumnya bintik-bintik biru di badan berbentuk lonjong. Sebaliknya,pada kerapu sunu lodi halus bintik-bintik ini berbentuk bulat dan lebih kecil ukurannya bintik-bintik yang ada di bagian belakang badan berbentuk bukat dan berukuran kecil. Sementara itu,bagian bawah kepala dan badan tidak terdapat bintik-bintik biru. Namun, ada satu bintik birupada pangkal sirip dada. Bentuk ujung sirip ekor ikan kerapu sunu rata. Ujung sirip tersebutterdapat garis putih. Adapun pada sirip punggung ikan terdapat duri sebanyak 7-8 buah, dalam http://repository.ipb.ac.id.
2.2  Tingkah Laku Ikan Kerapu Sunu (Plectropomus leopardus)
Effendi (2002) dalam http://id.wikipedia.org/ menyatakan bahwa ikan kerapu merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit protogini,  di mana proses di ferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau ikan kerapu ini di memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan. fenomena perubahan jenis kelamin pada ikan kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin dan ukurannya. jenis kerapu sunu merupakan sasaran utama pemancing di daerah karang sepanjang pantai.
2.3  Tinjauan Umum Jamur (Fungi)
Fungi merupakan kelompok organisme berfilamen, non fotosintetik, merupakan organisme Eukariotik heterotrofik, secara umum fungi cenderung pada lingkungan yang bersifat asam dengan pertumbuhan optimal umumnya pH 4-6. Fungi memiliki habitat yang tersebar luas yaitu tanah,air tawar maupun air laut, sejumlah fungi perairan bersifat saprofit, fungi menjadi masalah manakala ikan mengalami stres karena lingkungan yang buruk, nutrien buruk atau terdapat luka.kondisi tersebut akan menyebabkan ikan menjadi lemah atau jaringan menjadi rusak sehingga fungi dapat menginfeksi ikan. (Agus Irianto, 2005)
Beberapa jamur dapat menginfeksi ikan, namun demikian ikan pada dasarnya akan dapat terinfeksi jamur apabila dapat penanganan yang kurang sempurna (penanganan yang kasar ) atau karena penyebab lain, misalny : akibat air yang mengandung bahan kimia atau pestisida yang dapat menyebabkan terkikisnya lendir dari permukaan kulit (iritasi) dan akhirnya timbul luka, disamping itu yang juga berpengaruh adalah situasi suhu dan perubahan air yang mendadak. Jamur yang hidup sebagai parasit menyebabkan penyakit yang di sebut mikosis. Mikosis terdapat pada insang, kulit, mata, otot, daging dan organ  organ dalam seperti hati dan ginjal. Dalam http:// iphaenk.blogspot.com/devinisi jamur dan Menurut Roberts 1989 dalam Agus irianto 2005, Fungi Penyebab penyakit mikosis yang sering dijumpai pada ikan umumnya merupakan anggota dari sub divisi mastigomycotina, zygomycotyna dan deuteromycotina, yang keseluruhannya meliputi 5 ordo yaitu saprolegniales (Saprolegnia, achyla, branchimiches), chytridiales (Dermocystidium), entomophthorales (ichthtyophonus, basiodiobolus), miniliales (exophiala, aspergillus, Fusarium ) dan sphaeopsidales (Phoma)
Jamur terdapat disetiap jenis perairan terutama yang banyak mengandung bahan organik. Jamur hidup sebagai saprofit pada jaringan tubuh bukan merupakan penyakit sejati, karena jamur hanya dapat menyerang ikanyangluka atau sudah lemah. (Suyanto 2001).Infeksi jamur pada ikan terbagi atas dua kelompok yaitu infeksi internal dan infeksi eksternal, penyakitt jamur eksternal, EUS (Epizootic Ulcerative Syndrome) merupakan infeksi primer yang disebabkan olah jamur internal. Diagnosa jamur dapat dilakukan dengan pengamatan mikroskopis, isolasi dan identifikasi jamur (Yuasa dkk 2003).


-       Jamur aspergillus sp
Menurut Link (1809) dalam http://www.doctorfungus.org/,  Klasifikasi Aspergillus sp sebagai berikut:
Kingdom        : Fungi
Phylum
           : Ascomycota
Order
              : Eurotiales
Family
            : Trichocomaceae
Genus
             : Aspergillus
Spesis             : Aspergillus sp
Aspergillus adalah suatu jamur yang termasuk dalam kelas Ascomycetes yang dapat ditemukan dimana–mana di alam ini. Ia tumbuh sebagai saprofit pada tumbuh-tumbuhan yang membusuk dan terdapat pula pada tanah, debu organik, makanan dan merupakan kontaminan yang lazim ditemukan di rumah sakit dan Laboratorium. Aspergillus adalah jamur yang membentuk filamen-filamen panjang bercabang, dan dalam media biakan membentuk miselia dan konidiospora. Aspergillus berkembang biak dengan pembentukan hifa atau tunas dan menghasilkan konidiofora pembentuk spora. Beberapa spp Aspergillus . menghasilkan berbagai mikotoksin . Mikotoksin ini , oleh konsumsi kronis , telah terbukti memiliki potensi karsinogenik terutama pada hewan . Di antara mikotoksin ini , aflatoksin terkenal dan dapat menyebabkan karsinoma hepatoseluler, Link (1809). Aspergillus sp. ini adalah seperti benang-benang yang bertumpuk dengan bagian ujung terdapat mecilium-mecilium. Roberts (1978)

-       Jamur Penicilium sp
Menurut Link (1809) dalam Klasifikasi Penicilium sp sebagai berikut:
Phylum               :  Ascomycota
Kelas                  :  Eurotiomycetes
Family                :  Trichocomaceae
Genus                 :  Penicilium
Spesis                 :  Penicilium sp
Penicillium sp. adalah genus fungi dari ordo Hypomycetes, filum Askomycota. Penicillium sp. memiliki ciri hifa bersepta dan membentuk badan spora yang disebut konidium. Konidium berbeda dengan sporangim, karena tidak memiliki selubung pelindung seperti sporangium. Tangkai konidium disebut konidiofor, dan spora yang dihasilkannya disebut konidia. Konidium ini memiliki cabang-cabang yang disebut phialides sehingga tampak membentuk gerumbul. Lapisan dari phialides yang merupakan tempat pembentukan dan pematangan spora disebut sterigma. Beberapa jenis Penicillium sp yang terkenal antara lain P. notatum yang digunakan sebagai produsen antibiotik (Purves dan Sadava, 2003) dalam http://queentwentyfive.blogspot.com/2012/11/penicillium-sp.
-            Jamur Fusarium sp
Klasifikasi dari Fusarium sp menurut Sastrahidayat, 1986 dalam http://20proteksi07.blogspot.com/ adalah sebagai berikut ;
Divisi                    : Eumycota
SubDivisi
            : Deuteromycotina
Kelas
                    : Hypomycetes
Ordo
                     : Moniliales
Famili
                   : Tuberculariaceae
Genus
                   : Fusarium
Spesis                   :  Fusarium sp
Fusarium merupakan salah satu anggota famili Tuberculariaceae, ordo Hypocreales yang potensial  banyak dijumpai pada bahan makanan ternak maupun bahan pangan. Jamur ini berada dimana-mana, bersifat  parasit (Makfoeld, 1998 dalam Henuk, 2002).  Jamur ini dapat bertahan lama dalam tanah dengan bentuk klamidiospora, dapat berkembang pada suhu tanah 21-33˚C, dengan suhu optimumnya adalah 28˚C. Seperti kebanyakan Fusarium, penyebab penyakit ini hidup pada pH tanah yang luas variasinya. Penyakit akan berkembang lebih berat bila tanah mengandung banyak nitrogen tapi miskin kalium. (Semangun, 1996).

BAB III
METODOLOGI

3.1    Waktu dan Tempat
Praktek kerja lapangan dilaksanakan mulai tanggal 18 September sampai 6 November 2013 yang bertempat di Laboratorium Uji Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan kelas II Luwuk Banggai.
3.2    Alat dan Bahan
3.2.1        Alat                                             
Adapun alat alat yang digunakan dalam kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini yaitu pada tabel :
Tabel 1 : Alat alat yang digunakan
NO
NAMA ALAT
FUNGSI
1
Mikroskop
- Mengamati praparat jamur
2
Dissecting set
- Alat pembedah
3
Nampan bedah
- Tempat meletakan sampel uji
4
Petridish
- Tempat media tumbuh jamur
5
Objek glass
- Tempa meletakan organ target
6
Bunsen
- Fiksasi
7
Timbangan
- Menimbang sampel
8
Pengaris
- Mengukur panjang sampel
9
Laminary Air flow
-    Tempat pengambilan organ/mengisolasi jamur
10
Incobator
- Tempat incubasi jamur
11
Autoclave
- Alat untuk mensterilkan alat petritdish, testur erlen meyer dan bahan media penumbu jamur, bakteri
12
Oven
- Sterilisasi kering (alat petridish, tekstur erlen meyer objeck glass)
13
Petridish
-Tempat media tumbuh jamur
14
Erlen meyer
-Menyimpan larutan
15
Gelas ukur
- Mengukur larutan
16
Object glass
-Tempat meletakkan organ target
17
Cover glass
- Menutup object glass
18
Baker glass
- Tempat mengukur air dan larutan
19
Pipet volume
- Mengambil cairan        
3.2.2        Bahan
Adapun bahan yang di gunakan dalam kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini yaitu :     
                    Tabel 2 : Bahan yang di gunakan
No
Nama Bahan
Fungsi
1
Kerapu sunu
Sampel uji
2
Alcohol 70 %
Untuk sterilisasi alat
3
NaCl fisiologi
Ditetesi pada objek glass agar objek yang di amati tidak kering
4
PDA
Media tumbuh jamur
5
Penicillin
Antibiotic yang berfungsi sebagai penghambat jamur, bakteri
6
Paraffin cair
Menghambat pertumbuhan hifa
7
Parafilm
Prangkat petridisk
8
Kapas
Membersihkan organ
9
Tissue
Membersihkan alat
10
Kertas label
Memberi nama organ

3.3  Tehnik Pengumpulan Data

          Tehnik pengumpulan data dalam Praktek Kerja Lapang ini dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu:
a)    Pengambilan Data primer       
Pengambilan Data primer dilakukan dengan cara melakukan identifikasi pada ikan kerapu sunu di laboratorium. Selama kegiatan PKL berlangsung.
b)   Pengambilan Data sekunder
Pengambilan Data sekunder diperoleh dari referensi referensi yang berkaitan dengan kegiatan PraktekKerja Lapangan (PKL).
3.4   Prosedur Kerja
1.      Pengambilan Sampel Ikan
2.      Melakukan sterilisasi Peralatan
3.      Membuat Media Tumbuh Jamur
4.      Melakukan Pemeriksaan pada Ikan Kerapu sunu
5.      Melakukan Inokulasi Jamur
6.      Mengidentifikasi Jamur yang menyerang Ikan Kerapu sunu.

Reactions:

0 comments:

Loading...