Saturday, 11 June 2011

Penanganan Virus KHV

KHV singkatan dari Koi Herpes Virus merupakan jenis penyakit virus yang menyerang ikan mas, baik ikan mas koi maupun ikan mas biasa (konsumsi). Kematian masal yang ditimbulkan bisa mencapai 100 % atau mati total.  Serangan KHV pertama kali dikenal pada 1998 di Israel dan beberapa negara Eropa. Tetapi identitikasi terhadap virus ini baru dapat dilakukan pada 2000.
KHV kembali menyerang pada 2002, dengan daerah penyebaran yang jauh lebih luas, yaitu Jepang, China, Taiwan, dan Indonesia. Penyakit ini masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan ikan hias koi. Serangan KHV dengan cepat menghancurkan industri budidaya ikan mas di Jawa Barat (Cirata, Jatiluhur, Subang, dan Bogor), Jawa Tengah, Jawa Timur (industri ikan koi), Bali (Danau Batur), Sulawesi (Danau Tondano), dan Sumatera (Lubuk Linggau dan Danau Maninjau) dalam waktu kurang dari 2 tahun.
Hingga saat ini tidak ada daerah di Indonesia yang dapat dinyatakan aman atau bebas dari ancaman KHV, sehingga penyakit ini jadi endemik.  Artinya, sewaktu-waktu penyakit ini bisa muncul lagi dan menimbulkan kematian masal bagi ikan mas.
Virus ini menular secara horizontal dari satu ikan ke ikan lainnya (bukan melalui keturunan). Uniknya, virus ini hanya menyerang ikan mas (Cyprinus carpio) dan tidak membahayakan ikan lainnya. Virus ini bisa hidup bebas di air tawar selama kurang lebih 20 jam, bahkan di dalam lumpur kolam virus ini bisa bertahan hidup lebih dari 24 jam.
Oleh karena itu virus ini mudah sekali menular dari ikan hidup maupun mati yang terinfeksi oleh KHV.  Demikian juga dengan kolam ikan bekas inveksi KHV akan sangat berbahaya dan mudah menularkan ke kolam lainnya, baik melalui air buangan kolam, lumpur dasar sisa kolam, maupun air dalam kolam itu sendiri.
Tanda-tanda serangan virus ini terutama nampak pada insang ikan, oleh karena itu virus ini juga diberi nama Carp Necrosis Gill Virus (CNGV).  Insang akan tampak pucat dengan bentuk yang tidak normal, terjadi pembengkakan dan perdarahan pada lembaran insang. Gerakan ikan juga tidak normal dan cenderung berengan berputaran.
Kematian dapat terjadi dalam 2 x 24 jam.  Keganasan serangan virus KHV dipengaruhi oleh suhu air, jika suhu air hangat maka KHV jarang menyerang tetapi jika suhu air rendah maka kemungkinan serangan KHV akan muncul.  Di Indonesia serangan KHV seringkali terjadi di waduk jika suhu mencapai 260C. Jika suhu air sudah 300C sangat jarang terjadi serangan KHV.
Saat ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkan ikan mas dari serangan KHV. Satu-satunya cara adalah dengan pemberian vaksin untuk mencegah virus KHV menyerang ikan.  Ada 5 negara terdiri dari 7 institusi yang melakukan penelitian pengembangan virus KHV yaitu Israel, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan Kanada.
Dari kelima negara ternyata Israel yang unggul lebih dulu. Universitas Hebrew bekerjasama dengan Kovax telah berhasil mengembangkan vaksin KHV dengan cara melemahkan virus KHV.  Kovax saat ini sudah mendapat ijin dari pemerintah Israel untuk menjual vaksin tersebut di luar Israel.
Hanya saja vaksin yang berasal dari virus yang dilemahkan mempunyai 2 kendala, yaitu efektivitasnya kadang kurang tinggi sehingga ikan yang disuntik tidak cukup memproduksi antigen untuk melawan virus yang aktif. Selain itu ada kemungkinan virus yang dilemahkan dan dijadikan vaksin bisa menjadi aktif sehingga menimbulkan penyakit bagi ikan yang divaksin.
Mie University dari Jepang juga diberitakan sudah mampu membuat vaksin untuk KHV.  Bahkan vaksin yang dikembangkan diberikan melalui mulut (dicampur dengan pakan) sehingga penerapannya lebih mudah dan lebih cepat.  Hasil percobaan mereka menunjukkan bahwa ikan koi yang diberi vaksin ini mampu memproduksi antibodi 25 kali lebih banyak dibanding ikan normal.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan juga melakukan berbagai usaha untuk mengembangkan vaksin KHV. Bahkan usaha untuk mengimpor vaksin dari negara lain juga dijajaki sehingga kita bisa mempelajarinya.  Kita berharap agar vaksin KHV dapat cepat tersedia di Indonesia dengan harga yang terjangkau.






sumber:www.trobos.com
Reactions:

0 comments:

Loading...